Harga Emas Diprediksi Tembus Rekor di 2026, Masih Layak Jadi Aset Safe Haven?
Proyeksi harga emas dunia pada 2026 terus melambung tinggi dengan target hingga sekitar US$4.900 per ons, sementara harga emas di Indonesia pun berpotensi naik signifikan
Harga emas dunia yang telah mencetak rekor baru belakangan ini diperkirakan akan terus menguat pada 2026. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar dunia, memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$4.900 per ons pada Desember 2026, naik dari target sebelumnya US$4.300 per ons, didorong oleh permintaan kuat dari bank sentral dan investor institusional.
Bank ini mencatat bahwa arus masuk dana ke produk berbasis emas seperti ETF (Exchange-Traded Fund) serta akumulasi emas oleh bank sentral menjadi pendorong utama proyeksi kenaikan tersebut. Permintaan yang konsisten bahkan di tengah volatilitas pasar global menunjukkan emas tetap dianggap sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi, geopolitik, dan kebijakan moneter global.
Prediksi ini didukung oleh sejumlah lembaga keuangan besar lainnya. Misalnya, analis di berbagai institusi memperkirakan harga emas bisa melampaui level US$4.500 hingga US$5.000 per ons pada 2026, tergantung pada dinamika suku bunga, permintaan fisik, dan tekanan pasokan di pasar global. Physical Gold+1
Jika proyeksi tersebut terealisasi, harga emas tidak hanya mencetak rekor baru dalam denominasi dolar AS, tetapi juga berdampak pada harga emas di dalam negeri Indonesia. Dengan kurs rupiah yang relatif stabil, harga emas Indonesia potensial mencapai kisaran lebih dari Rp2,6-2,8 juta per gram, bahkan bisa melewati angka tersebut saat mempertimbangkan spread dan biaya lokal.
Mengapa Harga Emas Diproyeksikan Naik?
Beberapa faktor fundamental yang mendorong prospek kenaikan harga emas pada 2026 antara lain:
- Permintaan Bank Sentral â Banyak bank sentral di berbagai negara masih aktif mengakumulasi emas sebagai cadangan, memperkuat permintaan jangka panjang.
- Minat Investor Institusional â Aliran investasi ke ETF berbasis emas memperluas basis permintaan di luar pembelian fisik tradisional.
- Kebijakan Moneter Global â Ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat dan volatilitas makro mendorong minat terhadap aset tanpa yield seperti emas.
- Ketidakpastian Ekonomi dan Geopolitik â Faktor risiko global, dari ketegangan geopolitik hingga kondisi ekonomi yang masih bergejolak, memperkuat peran emas sebagai pelindung nilai.
Namun, tidak semua proyeksi menjanjikan kenaikan tanpa risiko. Lembaga seperti World Gold Council juga menyampaikan kemungkinan skenario harga emas mengalami koreksi 5â20 persen jika beberapa kebijakan ekonomi berhasil memperkuat mata uang dan menekan ketidakpastian pasar.
Apakah Emas Masih Layak Jadi Investasi?
Pertanyaan yang kerap muncul adalah: apakah emas masih layak menjadi pilihan investasi, terutama setelah harganya melambung tinggi?
Secara historis, emas dikenal sebagai aset safe haven dan diversifikasi portofolio, yang cenderung berkinerja baik di tengah tekanan inflasi, penurunan suku bunga, atau ketidakpastian pasar saham. Proyeksi kenaikan harga di atas level US$4.500âUS$5.000 per ons menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai masih kuat.
Namun, para analis juga mengingatkan bahwa investasi emas bukan tanpa risiko. Harga emas bisa berfluktuasi signifikan, dan keuntungan jangka pendek tidak selalu terjamin. Investor disarankan mempertimbangkan tujuan investasi, horizon waktu, serta diversifikasi portofolio â misalnya tidak mengalokasikan seluruh dana hanya pada emas, tetapi juga instrumen lain seperti saham atau obligasi.
Untuk investor ritel di Indonesia, emas fisik (batangan atau perhiasan) maupun emas digital/ETF bisa menjadi alternatif, tergantung kenyamanan masing-masing terhadap likuiditas dan biaya transaksi. Investasi emas juga sering direkomendasikan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio 5â10 persen, bukan sebagai aset dominan.
Prediksi harga emas dunia pada 2026 menunjukkan tren yang bullish dan berpotensi mencapai rekor baru di kisaran US$4.900 per ons atau lebih, dengan harga di Indonesia juga diperkirakan naik signifikan. Meskipun emas tetap menjadi aset investasi menarik, keputusan untuk membeli sebaiknya mempertimbangkan kondisi pasar secara menyeluruh, tujuan keuangan, serta horizon investasi masing-masing.





